Sejarah Desa

  • Dibaca: 2681 Pengunjung

Sejarah Desa Gelgel

        Nama suatu wilayah atau desa pada dasarnya mempunyai makna yaitu untuk mengenang dan atau untuk memperingati peristiwa penting yang pernah terjadi di tempat tersebut, Desa Gelgel yang berasal dari kata Gel-Gel mempunyai arti suka-suka atau kesukaan atau menyenangkan. Kapan tepatnya nama gelgel itu muncul samapi saat ini belum ada lembaga yang dapat memberikan kepastian, namun dari beberapa Babad yaitu Babad Pasek menyebutkan bahwa nama Gel-Gel sudah ada sejak Empu Gana datang ke Gelgel, dimana dalam perkembangan selanjutnya ketika Gelgel menjadi Pusat Kerajaan dan pusat segala aktifitas kehidupan di Bali, nama Gelgel sering diganti dengan Suwecapura atau Suwecalinggarsapura yang mempunyai arti sama dengan Gelgel.


Utuk lebih memahami Desa Gelgel selanjutnya kami uraikan secara singkat beberapa fakta sejarah sebagai berikut :
             

1. Awal Berdirinya Kerajaan Gelgel.

Proses berdirinya Kerajaan Gelgel tidak lepas dari Ekspedisi Maha Patih Gajah Mada ke-Bali Tahun 1343.Sebab dengan ekspedisi itu muncul penguasa baru yang berasal dari jawa menggantikan penguasa Bali yang terdahulu. Bangsawan jawa yang pertama-tama ditempatkan di Bali adalah Sri Kresna Kepakisan berkeraton di Samprangan,Gianyar. Raja ini memerintah dari tahun 1350-1380.

Sri Kresna Kepakisan digantikan oleh Putra Sulungnya bernama Agra Samprangan dengan gelar Dalem Samprangan. Konon Raja ini mempunyai kesenangan suka bersolek yang dikerjakan sepanjang hari, sehingga tidak mempunyai kesempatan menghadiri sidang, kalaupun ada sudah sangat terlambat. Keadaan seperti ini menjadikan para pembesar kerajaan jengkel. Akhirnya seorang tumenggung yaitu I Gusti Kubon Tubuh, yang didukung oleh hamper seluruh pejabat kerajaan mengangkat Dalem Ketut Ngulesir sebagai Raja dengan pusat Pemerintahan di- Gelgel ( Suwecapura ). Pemindahan pusat Pemerintahan ini berlangsung secara damai sejak itulah kerajaan Gelgel berdiri dengan Dalem Ketut Ngulesir sebagai Raja Pertama, yang memerintah dari tahun 1380-1400. Beliau sering disebut Dalem Ketut Smara Kepakisan, karena ketampanannya seperti Sang Hyang Smara.

Sebagai cikal bakal kerajaan Gelgel beliau bekerja keras untuk membangun kerajaannya dan menata kehidupan masyarakatnya di berbagai aspek. Disamping itu, Beliau juga mengadakan hubungan dengan raja-raja yang ada dibawah naungan kerajaan Majapahit, terutama hubungan dibidang politik. Dengan penataan itu maka Gelgel sebagai Pusat Pemerintahan dan sebagai pusat  berbagai aktifitas kehidupan di Bali mulai berkembang.

2. Masa Kejayaan Kerajaan Gelgel. 

Dalem Ketut Ngulesir digantikan  oleh putranya yang tertua yang bernama Dalem Waturenggong. Semenjak pemerintahan raja ini, dasar-dasar yang telah diletakkan dengan kuat oleh ayahnya dapat ditingkatkan dengan baik. Bahkan kekuasaanya tidak terbatas di Bali saja, namun jauh melebihi batas-batas Pulau Bali. Daerah-daerah luar Bali yang merupakan wilayah kekuasaanya adazlah sasak ( Lombok ), Sumbawa, Blambangan dan Puger. Hubungan dengan Majapahit sudah tidak ada lagi karena sekitar tahun 1550 kerajaan Majapahit sudah runtuh semenjak itu Kerajaan Gelgel menganggap dirinya sebagai pelanjut kebesaran Majapahit terutama dalam bidang pengayoman Agama Hindu ditengah-tengah arus penyebaran Agama Islam.

Sebagai pengayom Agama Hindu, Beliau mengundang Pendeta-pendeta dari Jawa. Pendeta-pendeta itu antara lain  : Dangyang Nirartha ( Siwa ), Dangyang Angsoka ( Siwa ), Dangyang Asta Paka. Diantara ketiga Pendeta itu yang terkenal adalah Dangyang Nirartha atau Dwijendra. Untuk memperkuat akar-akar dan mengembangakan ajaran Agama Hindu Beliau mendirikan beberapa buah Pura yang tersebar disepanjang pantai, seperti  : Pura Purancak Pulaki, Rambut Siwi, Tanah Lot, Uluwatu, Air Jeruk, Masceti, Peti Tenget dan Ponjok Batu.

Dalem Waturenggong telah berhasil memperkokoh dan memajukan kemakmuran masyarkatnya waktu itu. Dikatakan pada masa Pemerintahan Dalem Waturenggong kerjaaan Gelgel mencapai masa Keemasan, sehingga Beliau dicatat sebagai tokoh besar dalam sejarah Bali.

3. Pasang Surut Kerajaan Gelgel. 

Dalem waturenggong mempunyai 2 orang putra yaitu  : Putra Sulung bernama Dalem Bekung menggantikan Dalem Waturenggong sebagai Raja. Putra bungsu bernama Dalem Sagening. P

ada masa Pemerintahan Dalem Bekung ini kerajaan Gelgel mulai mengalami kemunduran-kemunduran. Pemerintahannya sangat lemah. Kerajaan-kerajaan diluar Bali satu per-satu melepaskan diri dan didalam negeri terjadi pembrontakan.

Pembrontakan dipimpin oleh I Gusti Batan Jeruk dengan dibantu I Dewa Anggungan, Pande Base dan I Gusti Tohjiwa. Pembrontakan ini hampir-hampir saja meruntuhkan kerajaan Gelgel. I Gusti Kubon Tubuh bersama beberapa orang pembesar kerajaan lainnya berhasil memadamkan pembrontakan. I Gusti Batan Jeruk saudara-saidaranya berhasil melarikan diri ke Desa Bungaya ( Karangasem ), tetapi lascar Gelgel berhasil membunuhnya disana bersama dengan I Gusti Tohjiwa sedangkan I Dewa Anggungan, I Dewa Gedong Artha, I Dewa Bangli, I Dewa Nusa dan I Dewa Pagedangan, kemudina dikeluarkan rumpun Ksatria Dalem yaitu diturunkan menjadi Ksatria Pra-Dewa.

Tidak lama berselang, tepatnya pada tahun 1500 Saka ( Sawang Sunya Panca Dewa ) atau tahun 1478 Masehi meletus pembrontakan I Gusti Pande yang bermula dari masalah perempuan. Pembrontakan I Gusti Pande dapat dipadamkan dengan terbunuhnya I Gusti Pande.

Kendatipun Pembrontakan dapat dipadamkan namun berakibat besar pada kedua belah pihak. Bagi  I Gusti Pande keluarganya semua terbunuh dan pihak kerajaan terbunuhnya para pembesar kerajaan dan rakyat pada kedua belah pihak. Akibatnya Gelgel menjadi sepi kemudian keraton dipidahkan ke barat dari pusatnya semula di Jeroagung ke Jerokapal.

Bagi rakyat dan pembesar kerajaan banyak yang tidak setuju dengan pemerintahan Dalem Bekung yang dianggap tidak cakap, kurang bijaksana dan tidak berputra. Kemudian para pembesar kerajaan menagangkat Dalem Sagening sebagai raja. Pada Pemerintahan Dalem Sagening ada beberapa hal yang perlu digaris bawahi antara lain  :

1.  Kedaan Kerajaan dapat dipulihkan.

2.  Rencana pembrontakan Arya Pinatih dan putra-putranya berhasil digagalkan

3.  Menyebarkan Golongan Ksatria ke seluruh Pelosok Pulau Bali.

4.  Kelompok Ksatria telah dibagi-bagi menjadi  : Ksatria Dalem, Ksatria Pra-Dewa, Ksatria Pungakan dan Ksatria Pra-Sanghyang.

 

Setelah Putranya naik Tahta, Dalem Di Made beberapa kerajaan diluar Bali yang dulunya melepaskan diri kemudian menyatakan diri setia kembali. Kerajaan-kerajaan. Yang menyatakan setia itu adalah :  Sasak dan Sumbawa demikian juga Blambangan masih berada dibawah kekuasaanya, akan tetapi keadaan seperti itu tidak berlangsung lama karena beberapa pembesar kerajaan meninggalkan Gelgel, karena  :

1.  Fitnah dari I Gusti Agung Maruti.

2.  Rasa kecewa kepada raja, karena raja memberikan keparcayaan secara berlebihan kepada I Gusti Agung Maruti.

Sekelompok orang-orang yang masih setia berhasil menyelamatkan raja dan putra-putranya, kemudian raja dengan diiringi 300 orang pengikut pergi ke Guliang dan mendirikan keraton disana. Namun berkat usaha Ki Gusti Sidemen, I Gusti Panji Sakti dan Kiyai Jambe Pule, maka I Gusti Agung Maruti berhasil dikalahkan. Kemudian pusat pemerintahan dipindahkan ke Desa Klungkung, yang sekarang lebih dikenal dengan nama SEMARAPURA.

Sejak berubah bentuk kelembagaan, Di Desa Gelgel sudah terjadi beberapa kali pergatian Pimpinan / Kepala Desa / Perbekel sebagai berikut :

1.  I MADE LALENG Perbekel / Kepala Desa yang pertama 

2.  I KETUT MEGEG Perbekel / Kepala Desa yang kedua

3.  I KETUT PALAK Perbekel / Kepala Desa yang ketiga memimpin Desa Gelgel selama duapuluh (20) Tahun sampai dengan Tahun 2001.

4.  I KOMANG PARWATA  Perbekel / Kepala Desa yang keempat, memimpin Desa Gelgel selama satu (1) Periode pada tahun 2001

     sampai dengan tahun  2006.

5.  I NENGAH SOMA  Perbekel / Kepala Desa yang Kelima, memimpin dari Tahun 2006 sampai saat ini.

  • Dibaca: 2681 Pengunjung